Minggu, 31 Juli 2011

Misteri Penyaliban Yesus

Sesungguhnya penolakan kaum muslimin
terhadap dogma penyaliban Isa al-Masih (Yesus)
guna menebus dosa manusia adalah bersumber
dari keimanan mereka yang dalam kepada kabar
yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam kitab suci al-Qur’an yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menolak mitos ini
dengan penolakan yang tegas dan keras. Allah
berfirman: ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ َﻢَﻳْﺮَﻣ َﻦْﺑﺍ ﻰَﺴﻴِﻋ َﺢﻴِﺴَﻤْﻟﺍ ﺎَﻨْﻠَﺘَﻗ ﺎَّﻧِﺇ ْﻢِﻬِﻟْﻮَﻗَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ ْﻢُﻬَﻟ َﻪِّﺒُﺷ ْﻦِﻜَﻟَﻭ ُﻩﻮُﺒَﻠَﺻ ﺎَﻣَﻭ ُﻩﻮُﻠَﺘَﻗ ﺎَﻣَﻭ َﻉﺎَﺒِّﺗﺍ ﺎَّﻟِﺇ ٍﻢْﻠِﻋ ْﻦِﻣ ِﻪِﺑ ْﻢُﻬَﻟ ﺎَﻣ ُﻪْﻨِﻣ ٍّﻚَﺷ ﻲِﻔَﻟ ِﻪﻴِﻓ ﺍﻮُﻔَﻠَﺘْﺧﺍ ﺎًﻨﻴِﻘَﻳ ُﻩﻮُﻠَﺘَﻗ ﺎَﻣَﻭ ِّﻦَّﻈﻟﺍ “dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami
telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul
Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan
tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka
bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa
bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa,
benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang
dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan
tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti
persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin
bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.” (Al- Nisaa’: 157)
Akan tetapi berbeda dengan umat Nasrani yang menjadikan akidah penyaliban Yesus sebagai inti
dari iman Kristiani dan sebagai satu-satunya jalan
untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Karena
itu salib menjadi lambang dan symbol bagi agama
mereka!! (Lihat Lukas 23: 46; Mathius 27: 50;
Yohanes 19: 28; Roma 5: 8-9; Timotius 2? 5-6). Yang sangat mengherankan adalah perbedaan
umat Nasrani tentang bentuk penyaliban ini, yang
mengindikasikan kepada kacaunya doktrin palsu
ini!
Sesungguhnya setiap yang ada kaitannya dengan
kisah penyaliban ini menjadi ajang perselisihan di antara Injil-Injil mereka dan sejarahwan mereka.
Mereka berselisih tentang waktu perjamuan malam
terakhir yang menjadi salah satu mukaddimah dari
penyaliban. Mereka berselisih tentang murid
pengkhianat yang menunjukkan Yesus dan
mereka berselisih tentang semuanya. Mereka berselisih, apakah penyaliban itu terjadi
minimal sehari sebelum perjamuan makan terakhir
seperti penuturan Lukas, atau di tengah-tengahnya
setelah Isa al-Masih memberinya suapan seperti
penuturan Yohanes!
Mereka berselisih jam berapa Yesus disalib, Apakah jam sembilan seperti laporan Markus (15: 25)
ataukah di atas jam 12 seperti laporan Yohanes
(19: 14)?
Mereka berselisih, Apakah Yesus disalib dengan
suka rela seperti laporan Efesus (5: 2) ataukah
karena terpaksa seperti laporan Markus (14: 33-34) dan Yohanes ( 12: 27)?
Mereka berselisih, Apakah Yesus yang membawa
salibnya sebagaimana riwayat Yohanes –menurut
kebiasaan orang yang akan disalib menurut
ucapan Nitonham- ataukah Sam’an al-Qairawani
sebagaimana yang diceritakan oleh ketiga pengarang Injil yang lain?
Mereka berselisih, tulisan apakah yang ada di atas
tiang salib? Apakah tertulis “Raja orang
Yahudi” (Markus 15: 26), ataukah “Inilah Raja
orang Yahudi” (Lukas 23: 38), ataukah “Inilah
Yesus Raja orang Yahudi (Mathius 27: 37), ataukah “Yesus, orang Nasaret, Raja orang
Yahudi” (Yohanes 19: 19)
Mereka berselisih tentang sikap kedua pencuri
yang juga disalib di samping kanan dan kiri Yesus.
Apakah keduanya yang mencaci Yesus, bahwa
Tuhannya telah menyerahkannya kepada musuh- musuhnya (Mathius 27: 44 dan Markus 15: 32),
ataukah hanya satu orang saja dan yang lainnya
menghardik temannya yang mencela ini (Lukas 23:
39)?
Mereka berselisih, berapakah orang yang bersaksi
dusta pada waktu penghakiman Yesus? Apakah dua orang (Mathius 26: 60) ataukah beberapa
orang (Markus 14: 57), ataukah tidak diketahui
seperti Lukas dan Yohanes yang diam seribu
bahasa.
Mereka berselisih apakah Yesus mengecap anggur
bercampur empedu (Mathius 27: 33-34) ataukah menolaknya (Markus 15: 23)
Mereka berselisih, apakah teriakan Yesus sewaktu
disalib? Apakah Eli, Eli Lima Sabakhtani (Mathius 27:
46-52; Markus 15: 34-38), ataukah Ya Bapa, ke
dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku (Lukas 23:
45-46). Mereka berselisih, apakah Yesus mengatakan “Saya
haus” ketika disalib (Yohanes 19: 28-29) ataukah
tidak (Mathius 27: 48 dan Markus 15: 36)?
Mereka berselisih apa yang terjadi setelah
penyaliban, apakah Hijab Haekal terbelah dari atas
ke bawah (Markus), ataukah di samping itu bumi berguncang, bebatuan terpecah belah, mayat-
mayat orang suci banyak yang bangkit dari
kuburnya lalu masuk ke kota suci dan terlihat oleh
banyak orang (Mathius), ataukah matahari menjadi
gelap dan Hijab Haekal terbelah dari tengahnya.
Dan tatkala pemimpin mereka melihat hal itu langsung memuji Allah sambil mengatakan: “Orang
ini benar-benar orang baik” (Lukas)?! . Ataukah
seperti Yohanes yang bungkam seribu bahasa,
tidak tahu sama sekali tentang peristiwa ini?
Mereka berselisih, siapakah yang menurunkan
tubuh Yesus dari tiang salib, apakah Yusuf Arimatea sendiri (Mathius 27: 59-60, Markus 15:
45-46, dan Lukas 23: 53). Ataukah Yusuf Arimatea
dan Nicademus (Yohanes 19: 38-42)?!
Banyaknya kontradiksi dalam kisah penyaliban
Yesus ini terjadi karena para murid Yesus tidak ada
yang menyaksikan penyaliban (Markus 14: 50). Hal ini membuktikan bahwa mereka hanya mengikuti
persangkaan belaka dan tidak yakin bahwa yang
dibunuh itu adalah Yesus (Isa ‘Alaihi Sallam)
Maha Benar Allah dalam firman-Nya dalam al-
Qur’an Surat al-Nisaa’: 157: ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ َﻢَﻳْﺮَﻣ َﻦْﺑﺍ ﻰَﺴﻴِﻋ َﺢﻴِﺴَﻤْﻟﺍ ﺎَﻨْﻠَﺘَﻗ ﺎَّﻧِﺇ ْﻢِﻬِﻟْﻮَﻗَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ ْﻢُﻬَﻟ َﻪِّﺒُﺷ ْﻦِﻜَﻟَﻭ ُﻩﻮُﺒَﻠَﺻ ﺎَﻣَﻭ ُﻩﻮُﻠَﺘَﻗ ﺎَﻣَﻭ َﻉﺎَﺒِّﺗﺍ ﺎَّﻟِﺇ ٍﻢْﻠِﻋ ْﻦِﻣ ِﻪِﺑ ْﻢُﻬَﻟ ﺎَﻣ ُﻪْﻨِﻣ ٍّﻚَﺷ ﻲِﻔَﻟ ِﻪﻴِﻓ ﺍﻮُﻔَﻠَﺘْﺧﺍ ﺎًﻨﻴِﻘَﻳ ُﻩﻮُﻠَﺘَﻗ ﺎَﻣَﻭ ِّﻦَّﻈﻟﺍ “dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami
telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul
Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan
tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka
bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa
bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa,
benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang
dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan
tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti
persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin
bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.” Dan Maha Benar Allah dalam firman-Nya tentang al-
Qur’an yang suci: ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺮْﻴَﻏ ِﺪْﻨِﻋ ْﻦِﻣ َﻥﺎَﻛ ْﻮَﻟَﻭ َﻥﺍَﺀْﺮُﻘْﻟﺍ َﻥﻭُﺮَّﺑَﺪَﺘَﻳ ﺎَﻠَﻓَﺃ ﺍًﺮﻴِﺜَﻛ ﺎًﻓﺎَﻠِﺘْﺧﺍ ِﻪﻴِﻓ ﺍﻭُﺪَﺟَﻮَﻟ “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al
Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi
Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan
yang banyak di dalamnya.” (al-Nisaa’: 82)
Sungguh usaha yang berat dan mustahil untuk
menutupi aib kitab-kitab Injil yang telah dirubah- rubah; yang telah mereka akui sendiri bahwa tidak
seperti ini Injil diturunkan kepada Nabi Isa. Bahkan
para saksi yang terpercaya lari tunggang langgang
tidak ada yang menghadiri peristiwa penyaliban
ini.
Maka usaha untuk meyakinkan kebenaran penyaliban tidak ubahnya usaha seorang desa
yang lugu yang ingin meyakinkan para ulama
(pakar) bahwa bom atom itu dibuat dari tepung
jagung!!
Mari kita lanjutkan perbincangan kita tentang
misteri penyaliban Yesus. Kitab-Kitab Injil menceritakan bahwa Yesus memberikan
Tanabbu’at (ramalan-ramalan) tentang
keselamatannya dari usaha pembunuhan:
Suatu saat orang-orang Farisi dan imam imam
kepala Kahin (dukun) mengutus penjaga Bait Allah
untuk menangkapnya. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Tinggal sedikit waktu saja Aku akan
bersama kalian dan sesudah itu Aku akan pergi
kepada Dia yang telah mengutus Aku. Kamu akan
mencari Aku, tetapi kamu tidak akan bertemu
dengan-Ku sebab kamu tidak dapat ke tempat Aku
berada” (Yohanes: 32-34). Dalam kesempatan lain Yesus berkata: “Aku akan
pergi, dan kamu akan mencari aku, dan kamu
akan mati dalam dosa-dosa kamu. Ke mana aku
pergi kamu tidak akan dapat datang ke sana”.
Maka orang-orang Yahudi berkata: “Barangkali Dia
akan bunuh diri, karena dia berkata: “Ke mana aku pergi kamu tidak akan dapat ke sana”.
Dia berkata kepada mereka: “Kamu dari bawah
sedangkan aku dari atas. Kamu dari alam ini
sedangkan aku tidaklah dari alam ini…… Manakala
kamu mengangkat anak manusia maka kamu
mengetahui bahwa akulah dia. Aku tidak melakukan apapun dari diriku sendiri. Aku tidak
mengucapkan kecuali apa yang telah diajarkan
Bapak kepadaku. Dan Bapak yang telah mengutus
aku, ia menyertai aku. Ia tidak membiarkan aku
sendiri, sebab aku senantiasa berbuat apa yang
berkenan kepada-Nya (Yohanes 8: 21-29). Kemudian akhirnya Yesus berkata kepada mereka:
“Kamu tidak akan melihat aku kecuali pada hari
kamu berbisik. Maha suci orang yang datang
dengan nama Bapak. Dan telah keluar
Yasu’ (Yesus) dari Haekal…… (Mathius 32: 39; 24: 1;
Lukas 13: 35). Nash-nash Injil ini menggambarkan bahwa Yesus
benar-benar percaya bahwa Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidak akan menyerahkannya kepada
musuh-musuh-Nya dan tidak akan
membiarkannya sendirian.
“Akan datang suatu saat, bahkan telah datang sekarang, di mana kamu akan berpecah belah.
Masing-masing ada dalam jalannya dan kamu
meninggalkan aku sendiri. Akan tetapi aku tidak
sendirian karena Bapak bersamaku…… Kamu akan
mengalami kesulitan di dunia ini. Maka beranilah;
aku telah mengalahkan dunia ini!! (Yohanes 16: 32-33).
Oleh karena itu setiap orang yang berat, bahkan
seluruh orang yang menghadiri sandiwara
penyaliban ini!! Semuanya melecehkan al-Masih.
Dan ini mustahil untuk Nabi Isa ‘Alahi Sallam,
sebagaimana yang dilaporkan oleh penulis Injil ini: “Orang-orang yang lewat menggeleng-gelengkan
kepala mereka dan mencacinya. Mereka berkata:
“Jika kamu putra Allah, maka bebaskanlah dirimu,
turunlah dari tiang salib.” Para imam-imam kepala
dan para pengajar syariah serta para sesepuh
melecehkannya, mereka mengatakan: “Dia menyelamatkan orang lain dan tidak mampu
menyelamatkan dirinya sendiri?! Dia raja Israel,
maka hendaklah dia turun sekarang dari tiang
salib agar kita beriman kepada-Nya; Dia tawakkal
kepada Allah dan berkata: “Aku putra Allah, maka
seharusnya Allah menyelamatkannya jika Dia benar-benar ridha kepadanya”. Dan dua pencuri
yang disalib bersamanya itu juga mencemoohnya
dengan mengatakan seperti ucapan ini”.
Di sini Injil-Injil itu menggambarkan bahwa
kepercayaan Yesus mulai goyah –ini tentu mustahil
bagi Nabi Isa ‘Alaihi Sallam. “Ia datang bersama Yasu’ ke sebuah tempat yang
bernama Jatsimani. Dia berkata kepada mereka:
“Duduklah kalian di sini hingga aku pergi dan
shalat di sana. Kemudian dia membawa serta Petrus
dan dua putra Zubdi. Dia mulai merasa sedih dan
gelisah, maka dia berkata kepada mereka: “Jiwaku sedih sampai mati. Tinggallah di sini dan
bergadanglah bersamaku. Dia menjauh sedikit dari
mereka dan bersungkur sujud dan shalat, maka
dia berdo’a: “Jika memungkinkan wahai Bapak,
maka lewatkanlah gelas ini dari diriku, akan tetapi
bukan seperti yang aku inginkan melainkan seperti yang Engkau inginkan. Kemudian dia
mendatangi murid-muridnya, ternyata ia mendapat
mereka sedang tidur…… dia menjauh lagi dan
shalat lalu berkata: “Wahai Bapak, jika tidak
mungkin Engkau melewatkan gelas ini dariku,
kecuali aku harus meminumnya maka hendaklah itu kehendak-Mu. Kemudian ia mendatangi mereka
lagi ternyata mereka tetap tidur…… Dia kembali
shalat lalu mengulang-ulang ucapan tadi kemudian
mendatangi murid-muridnya lagi dan berkata
kepada mereka: “Apakah masih tidur dan
beristirahat?! Telah datang saatnya putra manusia diserahkan kepada tangan-tangan orang yang
berdosa” (Mathius 26: 36-40).
Lukas melaporkan peristiwa ini dengan
mengatakan: “Dia berada dalam kesempitan, maka
dia memaksa dirinya dalam shalat. Keringatnya
seperti tetesan-tetesan darah yang berjatuhan di atas tanah. Dia bangkit dari shalat dan mendatangi
murid-muridnya ternyata dia mendapati mereka
tidur, karena sedih maka dia berkata kepada
mereka: “Kenapa kalian tidur?! Bangunlah dan
shalatlah supaya kamu tidak terjatuh dalam cobaan
ini (Lukas 22: 44). Oleh karena pelecehan terhadp klaim al-Masih ini –
menurut mereka- dan karena keyakinan al-Masih
bahwa Allah selalu bersama-Nya dan tidak akan
menghinakannya, maka sangat logis jika penulis
Injil yang membuat-buat kedustaan tentang
peristiwa ini menutup pertunjukan ini dengan adegan yang menggambarkan kepedihan al-Masih
dan kekecewaannya kepada Allah, Maha Suci Allah
dari kedustaan mereka ini- penulis yang
mengarang-ngarang itu mengatakan: “Pada waktu
Zhuhur, seluruh permukaan bumi tertutup gelap
hingga jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yasu’ (Yesus) dengan suara nyaring: “Eli, Eli, Lama
Sabakhtani?”. Artinya: Allahku, Allahku, Mengapa
Engkau meninggalkan aku? (Mathius 27: 46 /
Markus 15: 34).
Bila kita telah mengetahui mutu kisah penyaliban
ini dalam timbangan kritis maka gugurlah keyakinan apa saja yang dibangun di atasnya
seperti akidah pengorbanan dan penebusan dosa. Hanya Allah yang membimbing dan menuntun kepada jalan hidayah-Nya yang lurus. Tidak ada Rabb kecuali Dia dan tidak ada Ilah yang hak selain Dia. (Majalah Qiblati Edisi 1 Tahun I) dikutip dari http://qiblati.com/misteri-penyaliban-
yesus.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar