Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2011

Imam As-Suyuthi Ulama serba bisa

“Ilmuku (luasnya) bagaikan lautan yang bergelombang karena deburan ombak.”

Allah selalu menjaga keutuhan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui keberadaan para huffazh hadits yang menghafal hadis-hadis Nabi. Kalbu-kalbu mereka menjadi wadah penyimpan ilmunya.

Usaha yang mereka lakukan tidaklah mudah, membutuhkan ketelitian, ketekunan, kecerdasan, dan daya ingat yang kuat. Kesibukan mereka untuk menepis dusta atas nama Nabi melalui penyeleksian antara hadis yang sahih dan hadis yang bermasalah (lemah, palsu, dan lain-lain), menyebarkan hadis yang benar-benar dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta memperingatkan umat dari hadis-hadis lemah dan palsu agar diwaspadai dan disingkirkan dari umat.

Di antara tokoh terkemuka yang dianggap sebagai pakar hadis pada masanya, yaitu Imam Al-‘Allamah Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi.

Ulama ini, pada zamannya, dikenal sebagai seorang yang alim dalam bidang hadis dan cabang-cabangnya, baik yang berkaitan dengan ilmu rijal, sanad, matan, maupun kemampuan dalam mengambil istimbat hukum dari hadis.

Beliau lahir setelah waktu magrib, malam Ahad, pada permulaan tahun 849 H di daerah Al-Asyuth, atau juga dikenal dengan “As-Suyuth”. Secara lengkap, ia bernama Abdur Rahman bin Kamaluddidn Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin Abu Bakar bin Fakhruddin Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khidr bin Najmuddin Abu Ash-Shalah Ayyub bin Nashiruddin Muhammad bin Syekh Hammamuddin Al-Hammam bin Al-Kamal bin Nashiruddin Al-Mishri Al-Khudhairi Al-Asyuthi Ath-Thalani Asy-Syafi’i.

Nasab keluarganya bersambung kepada keluarga Persia, yang pindah ke Mesir di distrik Khudairiyah, sebelah timur Baghdad, dan kemudian bermukim di daerah Al-Asyuth, sebelum kelahirannya. Namun, ada keterangan lain yang menyebutkan bahwa ayahnya berdarah Arab.

Allah menganugerahkan kepadanya kemudahan untuk meraih ilmu sejak kecil, kecerdasan di atas rata-rata, dengan lingkungan yang kondusif. Dia hidup di lingkungan keluarga yang kental nuansa ilmiahnya.

Sewaktu kecil, ayahnya pernah membawanya ke majelis Syekh Muhamamd Al-Majdzub dan memperoleh doa keberkahan darinya. Dia juga sempat diajak ke majelis Al-Hafizh Ibnu hajar dan mendapatkan ijazah (rekomendasi periwayatan umum) darinya.

Pada umur lima tahun, sang Ayah meninggal dunia, sehingga ia tumbuh dalam keadaan yatim. Setelah itu, ia berada di bawah pengasuhan beberapa ulama besar pada masa itu. Di antaranya, Kamaluddin bin Al-Hammad. Di tangan ulama ini, As-Suyuthi kecil menghafal Alquran saat berusia delapan tahun. Demikian pula, kitab Al-Umdah, Minhajul Fiqh wal Ushul, dan Alfiyah Ibnu Malik menjadi kitab-kitab berikutnya yang ia hafal di luar kepala.

Menjadi bagian kenikmatan yang diraih oleh As-Suyuthi, ia hidup pada masa ulama besar yang sangat mendalami bidang-bidang ilmu yang beragam. Hal ini membekaskan pengaruh yang dalam pada diri ulama besar ini dalam aspek luasnya wawasan dan penguasaan ilmiahnya.

As-Suyuthi memulai kesibukannya mencari ilmu dalam usia empat belas tahun. Dia mengaku, “Aku mulai menyibukkan diri dengan pendalaman ilmu agama sejak permulaan tahun 864 H. Aku pelajari fikih dan nahwu dari sejumlah guru. Aku mengkaji ilmu faraidh (ilmu pembagian warisan) dari Allamah Syihabuddin Asy-Syamashai. Dengan Syekh ini, aku mempelajari kitab Al-Majmu. Pada tahun 866 H, aku sudah mendapat rekomendasi untuk mengajar Bahasa Arab dan sempat menulis kitab pertamaku yang berjudul Syarah Al-Isti’adzah wal Basmalah.”

Adapun untuk ilmu fikih, ia pelajari dari Sirajuddin Al-Bulqini. Tafsir, ia reguk dari Asy-Syaraf Al-Manawi. Ilmu Bahasa Arab, ia pelajari dari Taqiyyuddin Asy-Syumani dan Muhyiddin Ar-Rumi.

Berkaitan dengan ilmu hadis, ia menjumpai ulama-ulama senior dalam bidang itu, sehingga ia dapat mempelajari kitab ummahatu kutubil hadits (buku-buku induk hadis) dan mushthalah kepada ulama-ulama yang kompeten dalam bidang tersebut, misalnya: Taqiyyuddin Asy-Syibii, Qasim bin Qathlu Bugha, dan Taqiyyuddin bin Fahd. Ia mempelajari kitab Shahih Muslim dari Syamsuddin As-Sakrafi. Ia mengkaji kitab Nakhbatul Fikr di hadapan At-Taqiyyi Asy-Syumani.

Para guru As-Suyuthi juga tidak terbatas kaum lelaki saja. Dia juga sempat belajar dari beberapa guru wanita yang ahli dalam bidang hadis maupun fikih pada masa itu. Di antaranya: Ummu Hana Al-Mishriyyah, Aisyah bin Abdil Hadi, Sarah binti As-Siraj bin Jama’ah, Zainab binti Al-Hafizh Al-Iraqi, dan Ummu Fadhal binti Muhammad Al-Maqdisi.

Guna menimba ilmu, dia tak segan-segan berkeliling kota di banyak negeri, untuk menjumpai ulama-ulama lainnya yang ahli di bidangnya. Kota-kota di Syam, Hijaz, India, Maroko, Sudan pernah ia jelajahi.

Tatkala sampai di Mekkah, pada Rabiul Awwal 869 H, untuk menunaikan ibadah haji, ia meneguk air zamzam seraya memanjatkan doa agar mencapai derajat ilmiah dalam fikih sekelas Sirajuddin Al-Bulqini dan dalam bidang hadis sekelas Al Hafizh Ibnu Hajar.

Dalam perjalanannya menuntut ilmu agama, ia mempunyai prinsip dalam mencari ilmu, yaitu menerapkan dua manhaj talaqqi ilmu (metode mencari ilmu). Pertama, memilih satu guru dan bermulazamah kepada guru tersebut dalam waktu yang cukup atau sampai sang Guru meninggal. Kedua, dalam mencari ilmu, ia tidak membatasi diri pada syekh-syekh tertentu saja. Walaupun ia seseorang yang bermazhab Syafi’i dalam bidang fikih, ternyata itu tidak menghalanginya untuk mendalami fikih dari Izzudin Al-Hanafi.

Berkat ketekunan dan ketelatenannya dalam memperdalam ilmu, akhirnya, As-Suyuthi mampu menguasai ilmu agama. Tidak hanya dalam satu disiplin ilmiah ia menjadi kampiun, tetapi lebih dari satu disiplin ilmiah.

Dia pernah berkata, “Aku dikaruniai kedalaman ilmu dalam tujuh bidang, yaitu: tafsir, hadis, fikih, nahwu, al-ma’ani, al-bayan, dan al-badi.”

Dalam kesempatan lain, ia berkata tentang dirinya, “Kalau aku mau, aku akan menulis sebuah karya tulis dalam setiap permasalahan, lengkap dengan keterangan para ulama dan dalil-dalilnya yang naqli atau pun qiyasi serta komparasi (perbandingan) antar-mazhab, namun itu semua dengan pertolongan dari Allah, bukan lantaran kemampuan atau kekuatanku.”

Pertama kali ia mengeluarkan fatwa terjadi pada tahun 871 H. Ketika itu, kemampuan ilmiahnya sudah banyak, sehingga banyak pertanyaan yang diarahkan kepadanya dari banyak tempat. Dari sini, ia mulai berfatwa dan menjawab permasalahan agama. Fatwa-fatwa ulama ini bisa dijumpai melalui kitabnya yang berjudul Al-Hawi.

Beliau masih memberikan fatwa sampai beliau meninggalkan gelanggang ini dan memilih hidup menyendiri di kediamannya di Raudhah.

Ada beberapa jabatan yang ia pegang pada masa hidupnya. Semuanya tidak lepas dari dunia keilmuan. Pertama kali, ia mengajar Bahasa Arab dengan rekomendasi gurunya yang bernama Taqiyyuddin Asy-Syumani. Kemudian, kesibukannya mengajar mulai bertambah di Jami’ Asy-Syaukani, Jami’ Thalani, dan secara khusus mengajar hadis di Syaikhuniyah.

Hubungannya dengan para Khalifah Abbasiyah terjalin dengan baik, tumbuh berdasarkan rasa kasih sayang. Sikap saling menasihati dan memberi pengertian menghiasai persahabatan mereka. Dia menjalin hubungan yang baik ini lantaran meyakini harusnya kakhilafahan berada di tangan orang-orang keturunan Suku Quraisy. Adapun hubungan dengan para penguasa Daulah Mamalik yang menguasai Mesir, ia sangat menjaga diri.

Dia sempat menjumpai lima belas penguasa Daulah Mamalik dan berhubungan juga dengan mereka, tetapi dengan penuh kewaspadaan diri dan menjaga ‘izzah (harga diri, ed.). Hingga kemudian ia tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan mereka. Dalam hal ini, dia menulis kitab Ma Rawhu As-Salathin fi Adami Al-Maji ila As-Salathin.

Salah seorang penguasa Daulah Mamalik sering memintanya untuk datang ke istana, tetapi ia tidak pernah menyambut permintaan itu. Sampai ada yang berkomentar kepadanya, “Sesungguhnya, sebagian orang alim kerap datang kepada penguasa dan raja untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.” As-Suyuthi menjawab, “Petunjuk salaf yang menganjurkan untuk tidak sering-sering mengunjungi mereka. Itu adalah lebih baik.”

Meski begitu, ternyata tokoh-tokoh negara tetap mengunjungi ulama ini. Demikian juga orang-orang kaya. Sering, dalam kunjungan itu, mereka menawarkan harta benda, namun As-Suyuthi menolaknya dan mengembalikannya kepada sang pemilik.

Pada usia empat puluh tahun, ia mengundurkan diri dari kegiatan mengajar, untuk menyendiri. Permohonan diri ini ia tulis dalam bukunya, At-Tanfis. Setelah itu, kesibukannya lebih banyak untuk ibadah, mengkaji ulang tulisan-tulisannya, dan menjauhi serba-serbi dunia.

Pada akhir usianya, ia ditimpa penyakit yang ganas, bengkak pada lengan kirinya. As-Suyuthi meninggal karena pengaruh penyakitnya ini. Beliau menutup usianya pada malam Jumat, 19 Jumadil Ula 911 H, di kediamannya di Raudhah, dekat dengan sungai Nil, dalam usia 61 tahun dan 10 bulan. Pemakamannya dihadiri oleh banyak orang.

Sumber: Majalah As-Sunnah, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M. Dengan penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KisahMuslim.com
Artikel www.KisahMuslim.com

Senin, 06 Juni 2011

Menghembuskan nafas terakhir ketika Shalat berjamaah

Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair

Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah,

سمع عامر المؤذن وهو يجود بنفسه فقال: خذوا بيدي إلى المسجد، فقيل: إنك عليل فقال: أسمع داعي الله فلا أجيبه فأخذوا بيده فدخل مع الإمام في صلاة المغرب فركع مع الإمام ركعة ثم مات

‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat Maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” Merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…!” Maka merekapun memapahnya, lalu iapun shalat Maghrib bersama imam berjamaah, diapun shalat satu rakaat, kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)

Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama’ah…. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : “Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko’…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…”, dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.

Penulis: Ustadz Firanda Andirja, Lc., M.A.
Artikel www.KisahMuslim.com

Tanggal Kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

anggal Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperselisihkan secara tajam. Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 10 Rabiul Awal, 12 Rabiul Awal, 17 Rabiul Awal (Lihat al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir: 2/260 dan Latho’iful Ma’arif karya Ibnu Rojab hlm. 184-185). Semua pendapat ini tidak berdasarkan hadits yang shahih. Adapun hadits Jabir dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menerangkan bahwa tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tanggal 12 Rabiul Awal tidak shahih. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi, Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hadits tersebut, “Sanadnya terputus.” (al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Rajab hlm. 184-185)
Berhubung penentuan hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat bahwa hari kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabiul Awal, seperti al-Ustadz Mahmud Basya al-Falaki, al-Ustadz Muhammad Sulaiman al-Manshur Fauri (Sebagaimana dinukil oleh Shofiyurrohman al-Mubarokfuri dalam ar-Rahiqul Makhtum hlm. 62), dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim, beliau mengatakan,

“Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama. Telah tetap tanpa keraguan bahwa kelahiran beliau adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga bahwa beliau wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun qamariyyah akan ketemulah bahwa umur beliau 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah hari Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. (Taqwimul Azman hlm. 143, cet pertama 1404 H)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata jatuh pada tanggal 9 Rabiul Awal, bukan 12 Rabiul Awal.” (al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid: 1/491. Dinukil dari Ma Sya’a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan)

Dengan demikian, apa yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? (-ed muslim.or.id)

***

Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
Dikutip oleh muslim.or.id dari artikel 8 Faedah Seputar Tarikh Majalah Al-Furqon Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M

Tatkala Ajal menjemput Khalifah Abdul Malik Bin Marwan

Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwaan

Tatkala ajal menjemput Khalifah Abdul Malik bin Marwaan maka iapun memerintahkan untuk dibukakan pintu istana, tiba-tiba ada seorang penjaga istana yang sedang mengeringkan bajunya di atas batu, maka iapun berkata, “Siapa ini?”, maka mereka menjawab, “Seorang penjaga istana”. Maka iapun berkata, “Seandainya aku adalah seorang penjaga istana…”. Ia juga berkata, “Seandainya aku adalah budak milik seorang yang tinggal di pegunungan Tihaamah, lantas akupun menggembalakan kambing di pegunungan tersebut”.
Di antara perkataan terakhir yang diucapkannya adalah,

اللَّهُمَّ إِنْ تَغْفِرْ تَغْفِرْ جَمًّا، لَيْتَنِي كُنْتُ غَسَّالاً أَعِيْشُ بِمَا أَكْتَسِبُ يَوْماً بِيَوْمٍ

“Yaa Allah, jika engkau mengampuniku, maka berilah pengampunan-Mu yang luas, seandainya aku hanyalah seorang tukang cuci, aku hidup dari hasil penghasilanku sehari untuk kehidupan sehari”

Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, “Keluarkanlah aku di beranda istana…”, kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, يَا دُنْيَا مَا أَطْيَبَكِ أَنَّ طَوِيْلَكِ لَقَصِيْرٌ وَأَنَّ كَبِيْرَكِ لَحَقِيْرٌ وَأَنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُوْرٍ “Wahai dunia sungguh indah engkau…, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu”. Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini,

إِنْ تُنَاقِشْ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَارَبَّ عَذَابًا لاَ طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ

Jika engkau menyidangku wahai Rabb-ku, maka persidangan-Mu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi

أَوْ تَجَاوَزْتَ فَأَنْتَ رَبٌّ صَفُوْحٌ عَنْ مُسِيْءٍ ذُنُوْبَهُ كَالتُّرَابِ

Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha Memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah”
(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)

Penulis: Ustadz Firanda Andirja, Lc., M.A.
Artikel www.KisahMuslim.com

Sabtu, 04 Juni 2011

Hamzah bin Abdul Muthalib, Sang “Asadullah” (Singa Allah)

Nama sebenarnya Hamzah
bin Abdul Muthalib bin
Hasyim, seorang paman Nabi
dan saudara
sepersusuannya. Dia
memeluk Islam pada tahun
kedua kenabian, Ia Ikut
Hijrah bersama Rasulullah
shallallahu alaihi wassalam
dan ikut dalam perang
Badar, dan meninggal pada
saat perang Uhud, Rasulullah
menjulukinya dengan
“Asadullah” (Singa Allah) dan
menamainya sebagai
“Sayidus Syuhada”.

Ibnu Atsir berkata dalam
kitab‘Usud al Ghabah”,
Dalam perang Uhud, Hamzah
berhasil membunuh 31
orang kafir Quraisy, sampai
pada suatu saat beliau
tergelincir sehingga ia
terjatuh kebelakang dan
tersingkaplah baju besinya,
dan pada saat itu ia
langsung ditombak dan
dirobek perutnya . lalu
hatinya dikeluarkan oleh
Hindun kemudian
dikunyahnya hati Hamzah
tetapi tidak tertelan dan
segera dimuntahkannya.
Ketika Rasulullah melihat
keadaan tubuh pamannya
Hamzah bin Abdul Muthalib,
Beliau sangat marah dan

Allah menurunkan
firmannya ,” Dan jika kamu
memberikan balasan, maka
balaslah dengan balasan
yang sama dengan siksaan
yang ditimpakan kepadamu.
Akan tetapi jika kamu
bersabar, sesungguhnya
itulah yang lebih baik bagi
orang-orang yang sabar.
(Qs; an Nahl 126)

Diriwayatkan oleh Ibnu
Ishaq didalam kitab,” Sirah
Ibnu Ishaq” dari
Abdurahman bin Auf bahwa
Ummayyah bin Khalaf
berkata kepadanya“
Siapakah salah seorang
pasukan kalian yang
dadanya dihias dengan bulu
bulu itu?”, aku menjawab
“Dia adalah Hamzah bin
Abdul Muthalib”. Lalu
Umayyah dberkata Dialah
yang membuat kekalahan
kepada kami”.
Abdurahman bin Auf
menyebutkan bahwa ketika
perang Badar, Hamzah
berperang disamping
Rasulullah dengan
memegang 2 bilah pedang.

Diriwayatkan dari Jabir
bahwa ketika Rasulullah
shallallahu alaihi wassalam
melihat Hamzah terbunuh,
maka beliau menagis.
Ia wafat pada tahun 3 H, dan
Rasulullah shallallahu alaihi
wasalam dengan“Sayidus
Syuhada”.

===
Disalin dari riwayat Hamzah
bin Abul Muthalib dalam
Usud al Ghabah Ibn Atsir,
Sirah Ibn Ishaq /ahlulhadist

Artikel
www.KisahMuslim.com

Rabu, 06 April 2011

Mendulang pelajaran Akhlak dari Ulama sunnah

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah) Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda Mengenai Syaikh Abdurrozzaq, sebagaimana pengakuan sebagian teman yang pernah dekat dengan beliau, bahwasanya beliau bukanlah orang yang paling ‘alim di kota Madinah, bahkan bukan pula orang yang paling ‘alim di Universitas Islam Madinah, karena pada kenyataannya masih banyak ulama lain lebih unggul daripada beliau dari sisi keilmuan. Akan tetapi yang menjadikan beliau istimewa di hati para mahasiswa adalah perhatian beliau terhadap amal, takwa, dan akhlak. Hal ini tidak mengherankan karena seringkali wejangan-wejangan beliau tentang perhatian pada mengamalkan ilmu. Selama kurang lebih 9 tahun, beliau mengajar sebuah kitab tentang adab karya Imam Al-Bukhari yang berjudul Al-Adab Al-Mufrad di masjid Universitas Islam Madinah, setiap hari Kamis setelah shalat Shubuh. Selama tiga tahun beliau mengajar kitab yang sama di Masjid Nabawi. Ini semua menunjukkan perhatian beliau terhadap adab dan akhlak mulia. Bahkan, saat beliau mengisi di Radiorodja dan waktu itu tidak ada materi yang siap untuk disampaikan, serta kebetulan salah seorang pembawa acara ingin ada pengajian khusus tentang tanya jawab dengan diberi sedikit mukadimah, maka beliau
langsung setuju, dan mukadimah yang beliau bawakan adalah tentang pentingnya mengamalkan ilmu.Orang yang Tidak Shalat Shubuh
Berjamaah Bukanlah Penuntut Ilmu Syaikh Abdurrozaq pernah
mengunjungi suatu kampung yang
terkenal memiliki banyak penuntut
ilmu. Maka beliau pun shalat di masjid
tersebut. Di sana, beliau bertemu
seorang kakek, lantas beliau berkata seraya memberi kabar gembira
kepada sang Kakek, “Masya Allah, kampung Kakek banyak sekali
penuntut ilmu.” Tapi, sang Kakek malah menimpali
dengan perkataan sinis, “Tidak ada tullabul ‘ilm (para penuntut ilmu) di kampung ini. Sebab, orang yang tidak
shalat shubuh berjamaah bukan
penuntut ilmu!” Syaikh Abdurrozaq tertegun
mendengar kalimat sang Kakek.
Rupanya benar, banyak penuntut ilmu
di kampung tersebut tidak menghadiri
shalat shubuh berjamaah. Syaikh pun
membenarkan perkataan sang Kakek, “Anda benar, bahwa ilmu itu untuk diamalkan. Bahkan bisa jadi kita
mendapatkan seorang penuntut ilmu
semalam suntuk membahas tentang
hadits-hadits Nabi yang menunjukkan
keutamaan shalat Shubuh secara
berjamaah, bahkan bisa jadi dia menghafalkan hadits-hadits tersebut
di luar kepalanya. Akan tetapi tatkala
tiba waktu mengamalkan hadits-
hadits yang dihafalkannya itu, dia
tidak mengamalkannya, malah
ketiduran, tidak shalat shubuh berjamaah.” Memang benar bahwasanya tujuan
dari menuntut ilmu adalah untuk
diamalkan. Rasulullah saw. bersabda: َﻚْﻴَﻠَﻋ ْﻭَﺃ َﻚَﻟ ٌﺔَّﺠُﺣ ُﻥﺁْﺮُﻘﻟﺍ Al-Quran akan menjadi hujjah (yang
akan membela) engkau atau akan
menjadi bumerang yang akan
menyerangmu. (HR Muslim no 223) Saya teringat nasihat Syaikh Utsaimin
yang disampaikan di hadapan para
mahasiswa Universitas Islam Madinah,
bahwasanya ilmu itu hanya akan
memberi dua pilihan, dan tidak ada
pilihan ketiga, yaitu: [1] menjadi pembela bagi pemiliknya atau [2]
akan menyerangnya pada hari kiamat
jika tidak diamalkan. Oleh karena itu, hendaknya seseorang
tidak menuntut ilmu hanya untuk
menambah wawasannya, tetapi
dengan niat untuk diamalkan agar
tidak menjadi bumerang yang akan
menyerangnya pada hari kiamat kelak. Marilah kita renungkan…! Sudah berapa lama kita ikut pengajian? Sudah berapa kitab yang kita baca? Sudah berapa muhadhorah yang kita dengarkan? Sungguh suatu kenikmatan ketika seseorang bisa aktif ikut pengajian, akan tetapi apakah kita siap untuk menjawab pertanyaan yang pasti akan ditanyakan kepada kita semua, sebagaimana yang dikabarkan Nabi saw.: ِﻪِﻤْﻠِﻋ ْﻦَﻋﻭ , ؟ِﻪﻴِﻓ َﻞِﻤَﻋ ﺍَﺫﺎَﻣ “Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?” Syaikh Abdurrozzaq menjelaskan bahwa seseorang yang telah banyak mengumpulkan ilmu lantas tidak diamalkan maka hal ini menunjukkan ada niatnya yang tidak beres. Sungguh menyedihkan jika kita, ahlus sunah, yang seharusnya memberi perhatian besar terhadap ilmu akidah, baik penanaman akidah maupun pembenahan akidah-akidah yang menyimpang di masyarakat, namun ilmu akidah tidak tercermin pada amalan shalih kita. Syaikh Abdurrozzaq berkata: “Aku ingin mengingatkan sebuah perkara yang terkadang kita melalaikannya tatkala kita mempelajari ilmu aqidah. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:ُّﻞُﻛ ٍﻢْﻠِﻋ ٍﻞَﻤَﻋَﻭ َﻻ ُﺪْﻳِﺰَﻳ َﻥﺎَﻤﻳِﻹﺍ َﻦْﻴِﻘَﻴﻟﺍﻭ ًﺓَّﻮُﻗ ٌﻝْﻮُﺧْﺪَﻤَﻓ ، ُّﻞُﻛَﻭ ٍﻥﺎَﻤﻳِﺇ َﻻ ُﺚَﻌْﺒَﻳ ﻰَﻠَﻋ ِﻞَﻤَﻌْﻟﺍ ٌﻝْﻮُﺧْﺪَﻤَﻓ Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan
dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).( Al Fawaid 86) Maksud “telah termasuki” dari perkataan Ibnul Qoyyim yaitu telah termasuki sesuatu; baik riya, tujuan duniawi, atau yang semisalnya, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan diberkahi. Oleh karena itu, niat yang baik merupakan perkara yang harus, baik dalam mempelajari akidah ataupun ilmu agama yang lain secara umum. Jika seseorang mempelajari ilmu akidah hendaknya dia tidak mempelajarinya sekadar menambah telaah dan memperbanyak wawasan, tetapi hendaknya karena akidah merupakan bagian dari agama Allah yang diperintahkan Allah kepada para
hamba-Nya, serta menyeru mereka kepada-Nya dan menciptakan mereka
karena akidah dan dalam rangka merealisasikannya. Maka hendaknya ia berijtihad (berusaha keras) untuk memahami dalil-dalilnya dan ber- taqarrub kepada Allah dengan mengimaninya dan menanamkannya dalam hatinya. Jika dia mempelajari akidah dengan niat seperti ini maka akan memberikan buah yang sangat besar, dan akan memengaruhinya dalam perbaikan sikap, amal, dan akhlak dalam seluruh kehidupannya. Jika seseorang mempelajari akidah hanya untuk jidal dan perdebatan, dengan tanpa memerhatikan sisi penyucian jiwa dengan keimanan, keyakinan, serta rasa tenang dengan akidah tersebut, maka tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Di antara contoh tentang perkara ini -- yang berkaitan dengan iman kepada melihat Allah di akhirat kelak -- sabda Nabi saw: ْﻢُﻜَّﻧِﺇ َﻥْﻭَﺮَﺘَﺳ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ َﻡْﻮَﻳ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ ﺎَﻤَﻛ َﻥْﻭَﺮَﺗ َﺮَﻤَﻘْﻟﺍ ، َﻻ َﻥﻮُﻣﺎَﻀُﺗ ـ ﻲﻓﻭ ﺔﻳﺍﻭﺭ : ” ﻻ ﻥﻭُّﺭﺎﻀُﺗ ،” ﻲﻓﻭ ﺔﻳﺍﻭﺭ : ” ﻻ ﻥﻮُّﻣﺎَﻀُﺗ ـ” ﻲﻓ ﻪﺘﻳﺅﺭ ، ِﻥِﺈَﻓ ْﻢُﺘْﻌَﻄَﺘْﺳﺍ َّﻻَﺃ ﺍْﻮُﺒَﻠْﻐُﺗ ﻰَﻠَﻋ ٍﺓَﻼَﺻ َﻞْﺒَﻗ ِﻉْﻮُﻠُﻃ ِﺲْﻤَّﺸﻟﺍ َﻞْﺒَﻗّﻭ ﺎَﻬِﺑْﻭُﺮُﻏ ﺍﻮُﻠَﻌْﻓﺎَﻓ ، َّﻢُﺛ َﺃَﺮَﻗ : ِﺲْﻤَّﺸﻟﺍ ِﻉﻮُﻠُﻃ َﻞْﺒَﻗ َﻚِّﺑَﺭ ِﺪْﻤَﺤِﺑ ْﺢِّﺒَﺳَﻭ ِﺏﻭُﺮُﻐْﻟﺍ َﻞْﺒَﻗَﻭ Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian pada hari kiamat sebagaimana kalian melihat bulan. Kalian tidak akan tertutupi oleh awan, (dalam riwayat yang lain: kalian tidak akan saling mencelakakan; dalam riwayat yang lain: kalian tidak akan saling berdesak-desakan), maka jika kalian mampu melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari maka lakukanlah. ” Kemudian Nabi membaca firman Allah: ْﺢِّﺒَﺳَﻭ ِﺪْﻤَﺤِﺑ َﻚِّﺑَﺭ َﻞْﺒَﻗ ِﻉﻮُﻠُﻃ ِﺲْﻤَّﺸﻟﺍ َﻞْﺒَﻗَﻭ ِﺏﻭُﺮُﻐْﻟﺍ Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Q.S. Qaf: 39 ) Maksud Nabi adalah shalat Shubuh dan shalat Asar. Perhatikanlah keterkaitan antara akidah dan amal. Nabi menyebutkan kepada para sahabat perkara akidah, yaitu beriman kepada melihat Allah. Lalu Nabi menyebutkan kepada mereka tentang amal yang merupakan buah dari akidah yang benar, maka Nabi berkata kepada mereka: “Jika kalian mampu untuk tidak terluputkan….” Jika ada seseorang mempelajari hadits-hadits tentang iman kepada melihat Allah, lantas meneliti jalan hadits serta sanad-sanadnya, lalu dia mendebat para ahlul kalam dan membantah syubhat-syubhat seputar hal ini, kemudian ternyata dia begadang dan akhirnya meninggalkan shalat Shubuh, bisa jadi shalat Shubuh tersebut tidak ada nilainya di sisi-Nya. Sang muadzin telah mengumandangkan adzan untuk shalat, “As-Shalatu khairun minan naum,” (Shalat itu lebih baik dari pada tidur) namun kondisinya menunjukkan seakan-akan dia berkata, “Tidur lebih baik daripada shalat.” Maka, mana pengaruh akidah pada sikapnya? Kita mohon kepada Allah keselamatan. Orang seperti ini perlu memperbaiki niat dan tujuannya dalam mempelajari akidah agar bisa membuahkan hasil yang diharapkan, maka terwujudkanlah pengaruh yang baik yang barakah baginya. Seorang muslim semestinya mempelajari akidah karena itu adalah akidah dan agamanya yang Allah telah memerintahkan dia untuk mengamalkannya. Dan hendaknya dia
bersungguh-sungguh agar ilmu akidahnya tersebut bisa memberi pengaruh pada diri, ibadah, dan taqarrub-nya kepada Allah.” (Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Akidah, Al-Hafizh Abdul Ghaniy Al- Maqdisi; hal 21-22) Marilah kita bercermin dan menginstropeksi diri kita, apakah dengan semakin bertambahnya ilmu kita demikian juga bertambah amalan kita? Ataukah bertambahnya ilmu justru membuat kita semakin malas dalam beramal? Bukankah kita masih ingat, di awal-awal mengenal pengajian, semangat kita begitu besar dalam menjalankan sunah-sunah Nabi, akan tetapi kenapa ada sebagian dari kita dengan semakin bertambahnya ilmu justru semakin sedikit beramal? Bahkan, ada pula sebagian kita setelah mengetahui beberapa amalan hukumnya sunah (mustahab) dan tidak wajib, malah terdorong untuk meninggalkan amalan tersebut. Bertambahnya ilmu justru mengantarkannya untuk meninggalkan amalan. Bukankah bisa jadi karena terbiasa meninggalkan amalan-amalan sunah akhirnya perkara-perkara yang wajib pun bisa ditinggalkan? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah berkata: ﺍَﺫِﺇَﻭ َّﺮَﺻَﺃ ﻰَﻠَﻋ ِﻙْﺮَﺗ ﺎَﻣ َﺮِﻣُﺃ ِﻪِﺑ ْﻦِﻣ ِﺔَّﻨُّﺴﻟﺍ ِﻞْﻌِﻓَﻭ ﺎَﻣ َﻲِﻬُﻧ ُﻪْﻨَﻋ ْﺪَﻘَﻓ ُﺐَﻗﺎَﻌُﻳ ِﺐْﻠَﺴِﺑ ِﻞْﻌِﻓ ِﺕﺎَﺒِﺟﺍَﻮْﻟﺍ ﻰَّﺘَﺣ ْﺪَﻗ ُﺮﻴِﺼَﻳ ﺎًﻘِﺳﺎَﻓ ْﻭَﺃ ﺎًﻴِﻋﺍَﺩ ﻰَﻟﺇ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ “Seseorang jika terus meninggalkan sunah yang diperintahkan dan melakukan perkara yang terlarang maka bisa jadi dia dihukum (oleh Allah) dengan meninggalkan hal-hal yang wajib, hingga akhirnya bisa jadi ia menjadi orang fasik atau orang yang menyeru kepada bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/306) Marilah kita cek hati dan ketakwaan kita, apakah dengan bertambah ilmu setelah sekian tahun ikut pengajian, maka ketakwaan dan keimanan kita semakin berkobar, ataukah malah semakin kendor? Jika ternyata kita semakin malas beramal dan semakin lemah iman kita maka ingatlah nasihat Syaikh Abdurrozzaq tadi bahwasanya niat kita selama ini ternyata terkontaminasi dan ternodai dengan penyakit-penyakit hati; baik riya, ujub,
atau tujuan-tujuan duniawi lainnya. Allahul musta’an. Ilmu adalah Pohon, dan Amal adalah Buahnya Para pembaca yang budiman, tahukah
Anda bahwa ilmu bukanlah ibadah yang independen? Ilmu hanya disebut
ibadah dan terpuji apabila ilmu tersebut membuahkan amalan. Jika ilmu tidak membuahkan amal maka jadilah tercela dan akan menyerang pemiliknya. Hal ini dijelaskan dengan tegas oleh Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya yang luar biasa Al- Muwafaqat. Beliau berkata: َّﻥَﺃ َّﻞُﻛ ٍﻢْﻠِﻋ ﻻ ﺪﻴﻔُﻳ ؛ًﻼَﻤَﻋ َﺲْﻴَﻠَﻓ ﻲِﻓ ِﻉﺮَّﺸﻟﺍ ﻪِﻧﺎَﺴﺤِﺘﺳﺍ ﻰَﻠَﻋ ُّﻝُﺪَﻳ ﺎَﻣ “Semua ilmu yang tidak membuahkan amal maka tidak dalam syariat satu dalil pun yang menunjukkan akan baiknya ilmu tersebut.” (Al-Muwafaqat 1/74) Oleh karena itu, semua dalil yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu semuanya harus dibawakan kepada ilmu yang disertai dengan amal. Firman Allah: ْﻞُﻗ ْﻞَﻫ ﻱِﻮَﺘْﺴَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ﻻ ِﺏﺎَﺒْﻟﻷﺍ ﻮُﻟﻭُﺃ ُﺮَّﻛَﺬَﺘَﻳ ﺎَﻤَّﻧِﺇ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ ) ٩ ) “Katakanlah: ‘Adakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal- lah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az-Zumar: 9) َﺪِﻬَﺷ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪَّﻧَﺃ ﻻ َﻪَﻟِﺇ ﻻِﺇ َﻮُﻫ ُﺔَﻜِﺋﻼَﻤْﻟﺍَﻭ ﻮُﻟﻭُﺃَﻭ ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ ﺎًﻤِﺋﺎَﻗ ِﻂْﺴِﻘْﻟﺎِﺑ ﻻ َﻪَﻟِﺇ ﻻِﺇ َﻮُﻫ ُﺰﻳِﺰَﻌْﻟﺍ ُﻢﻴِﻜَﺤْﻟﺍ ) ١٨ ) Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang- orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu), tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Q.S. Ali Imran: 18)ِﻊَﻓْﺮَﻳ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ﺍﻮُﺗﻭُﺃ ٍﺕﺎَﺟَﺭَﺩ َﻢْﻠِﻌْﻟﺍ Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.S. Al-Mujadalah: 11) Demikian juga semisal hadits Nabi saw.: ِﻦْﻳِّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ ُﻪْﻬِّﻘَﻔُﻳ ﺍًﺮﻴﺧ ﻪﺑ ُﻪﻠﻟﺍ ِﺩِﺮُﻳ ﻦﻣ Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan membuat dia faqih (paham) tentang ilmu agama. Maksudnya adalah orang yang dikendaki kebaikan oleh Allah adalah orang yang diberi ilmu dan mengamalkan ilmunya. Adapun orang
yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmu maka tercela, karena jelas ilmunya akan menjadi bumerang baginya. Asy-Syathibi rahimahullah membawakan banyak dalil yang menunjukkan akan hal itu. Beliau berkata: “Sesungguhnya ruh ilmu adalah amal. Jika ada ilmu tanpa amal maka ilmu tersebut kosong dan tidak bermanfaat. Allah telah berfirman: ُﺀﺎَﻤَﻠُﻌْﻟﺍ ِﻩِﺩﺎَﺒِﻋ ْﻦِﻣ َﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﺸْﺨَﻳ ﺎَﻤَّﻧِﺇ Sesungguhnya yang takut kepada Allah adalah para ulama. (Q.S. Fathir: 28) Dan Allah juga berfirman: ُﻩﺎَﻨْﻤَّﻠَﻋ ﺎَﻤِﻟ ٍﻢْﻠِﻋ ﻭُﺬَﻟ ُﻪَّﻧِﺇَﻭ Dan Sesungguhnya Dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. (Q.S. Yusuf: 68) Qatadah berkata: “Maksudnya adalah ﻭُﺬَﻟ ٍﻞَﻤَﻋ ﺎَﻤِﺑ ﺎَﻨْﻤَّﻠَﻋ dia mengamalkan ilmu yang Kami ajarkan kepadanya…” (Al-Muwafaqat 1/75). Dan yang paling menunjukkan akan hal ini adalah hadits Nabi saw: َﻻ ُﻝْﻭُﺰَﺗ ﺎَﻣَﺪَﻗ ِﺪْﺒَﻌْﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َّﻰﺘَﺣ َﻝَﺄﺴُﻳ ٍﻝﺎَﺼِﺧ ِﺲْﻤَﺧ ْﻦَﻋ”، “Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang lima perkara.” Di antara lima perkara tersebut yang disebutkan oleh Nabi saw.: ْﻦَﻋﻭ ِﻪِﻤْﻠِﻋ , ﺍَﺫﺎَﻣ َﻞِﻤَﻋ ؟ِﻪﻴِﻓ “ Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?” Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad- Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami ’ no 1232). Oleh karena itu, sungguh indah kesimpulan yang disampaikan oleh Asy-Syathibi dalam perkataannya: “Dan dalil akan hal ini (bahwasanya ilmu hanyalah wasilah untuk amal dan bukan tujuan) terlalu banyak. Semuanya memperkuat bahwa ilmu merupakan sebuah wasilah (sarana) dan bukan tujuan langsung jika ditinjau dari kacamata syariat. Akan tetapi, ilmu hanyalah wasilah untuk beramal. Maka semua dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu hanyalah berlaku bagi ilmu yang disertai dengan amalan. Dan kesimpulannya bahwasanya seluruh ilmu syar’i tidaklah dituntut (dalam syariat) kecuali dari sisi sebagai sarana
untuk mencapai sesuatu yaitu amal.” (Al-Muwafaqat 1/83-85) Sungguh indah wasiat Al-Khathib al- Baghdadi kepada para penuntut ilmu: ﻲِﻓ ِﺔَّﻴِّﻨﻟﺍ ِﺹﺎَﻠْﺧِﺈِﺑ ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ َﺐِﻟﺎَﻃ ﺎَﻳ َﻚﻴِﺻﻮُﻣ ﻲِّﻧِﺇ ِﻪِﺒَﻠَﻃ ، ِﺩﺎَﻬْﺟِﺇَﻭ ِﺲْﻔَّﻨﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﻞَﻤَﻌْﻟﺍ ِﻪِﺒَﺟﻮُﻤِﺑ ، َّﻥِﺈَﻓ َﻢْﻠِﻌْﻟﺍ َﻞَﻤَﻌْﻟﺍَﻭ ٌﺓَﺮَﺠَﺷ ٌﺓَﺮَﻤَﺛ ، ُّﺪَﻌُﻳ َﺲْﻴَﻟَﻭ ﺎًﻤِﻟﺎَﻋ ْﻢَﻟ ْﻦَﻣ ِﻪِﻤْﻠِﻌِﺑ ْﻦُﻜَﻳ ﺎًﻠِﻣﺎَﻋ ، ... ٌﺀْﻲَﺷ ﺎَﻣَﻭ ُﻒَﻌْﺿَﺃ ْﻦِﻣ ٍﻢِﻟﺎَﻋ َﻙَﺮَﺗ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ ُﻪَﻤْﻠِﻋ ِﺩﺎَﺴَﻔِﻟ ِﻪِﺘَﻘﻳِﺮَﻃ ، ْﻢِﻫِﺮَﻈَﻨِﻟ ِﻪِﻠْﻬَﺠِﺑ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﺬَﺧَﺃ ٍﻞِﻫﺎَﺟَﻭ ِﻪِﺗَﺩﺎَﺒِﻋ ﻰَﻟِﺇ ... ُﻢْﻠِﻌْﻟﺍَﻭ ُﺩﺍَﺮُﻳ ِﻞَﻤَﻌْﻠِﻟ ﺎَﻤَﻛ ُﻞَﻤَﻌْﻟﺍ ُﺩﺍَﺮُﻳ ِﺓﺎَﺠَّﻨﻠِﻟ ، ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ ِﻦَﻋ ﺍًﺮِﺻﺎَﻗ ُﻞَﻤَﻌْﻟﺍ َﻥﺎَﻛ ﺍَﺫِﺈَﻓ ، ُﻢْﻠِﻌْﻟﺍ َﻥﺎَﻛ ﺎًّﻠَﻛ ﻰَﻠَﻋ ِﻢِﻟﺎَﻌْﻟﺍ ، ُﺫﻮُﻌَﻧَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺎِﺑ ْﻦِﻣ ٍﻢْﻠِﻋ َﺩﺎَﻋ ﺎًّﻠَﻛ ، َﺙَﺭْﻭَﺃَﻭ ﺎًّﻟُﺫ ، َﺭﺎَﺻَﻭ ﻲِﻓ ِﺔَﺒَﻗَﺭ ِﻪِﺒِﺣﺎَﺻ ﺎًّﻠَﻏ ، َﻝﺎَﻗ ُﺾْﻌَﺑ ِﺀﺎَﻤَﻜُﺤْﻟﺍ : ُﻢْﻠِﻌْﻟﺍ ُﻡِﺩﺎَﺧ ِﻞَﻤَﻌْﻟﺍ ، ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ ُﺔَﻳﺎَﻏ ُﻞَﻤَﻌْﻟﺍَﻭ Aku memberi wasiat kepadamu wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan berusaha keras untuk mengamalkan konsekuensi ilmu. Sesungguhnya ilmu
adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak akan dianggap alim bila tidak mengamalkan ilmunya. Tidak ada yang lebih lemah dari kondisi seorang alim yang ditinggalkan ilmunya oleh masyarakat karena jalannya (yang kosong dari amal) dan seorang yang jahil yang diikuti kejahilannya oleh masyarakat karena melihat ibadahnya.” Tujuan ilmu adalah amal, sebagaimana
tujuan amal adalah keselamatan. Jika ilmu kosong dari amal maka ilmu itu akan menjadi beban (bumerang) bagi pemiliknya. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi beban (bumerang) dan mendatangkan kehinaan, dan akhirnya menjadi belenggu di leher pemiliknya. Sebagian ahli bijak berkata, “Ilmu adalah pembantu bagi amal, dan amal adalah puncak dari ilmu.” (Iqtidhaul Ilmi Al-’Amal 14-15) Semangat Beramal Mengalahkan Kelelahan dan Kelemahan Syaikh Abdurrozaq bercerita, “Suatu ketika aku pernah shalat Tarawih di Masjid Nabawi. Dulu, setiap malam bulan Ramadhan, para imam Masjid Nabawi membaca tiga juz dari Al- Quran dangan bacaan tartil. Berbeda dengan sekarang di mana para imam hanya membaca satu juz. Ketika itu, aku shalat dan ternyata di hadapanku ada seorang dari Indonesia yang juga ikut shalat malam. Yang menarik perhatianku, ternyata orang tersebut kakinya buntung satu. Tatkala berdiri dia hanya bertopang pada satu kakinya. Sungguh menakjubkan, kita yang memiliki dua kaki merasa kelelahan menunggu imam menyelesaikan bacaan tiga juz dalam sepuluh rakaat, sementara orang Indonesia ini meskipun hanya bertopang pada satu kaki tetapi semangatnya yang begitu luar biasa; sama sekali tidak bergeming selama shalat, tidak terjatuh atau tertatih-tatih.
Keimanan yang luar bisa yang menjadikannya kuat untuk bertahan berjam-jam melaksanakan shalat Tarawih.” Kisah yang luar biasa ini beberapa kali saya dengar dari Syaikh tatkala memotivasi murid-muridnya untuk semangat beramal. Timbul kebanggaan dalam diri saya mengetahui orang yang beliau contohkan itu berasal dari Indonesia, namun sekaligus timbul rasa malu dalam diri saya, mengapa saya tidak semangat beribadah seperti orang yang buntung tersebut? Manhaj Nabi??!! Suatu ketika saat Syaikh mengisi pengajian, ada orang yang bertanya kepada beliau, “Ya Syaikh, bagaimanakah manhaj Nabi?” Pertanyaan ini unik karena diajukan saat santer-santernya fitnah tahdzir- mentahdzir di Arab Saudi, dan orang tersebut tentunya berniat baik ingin mengetahui bagaimanakah manhaj yang benar sehingga ia bisa berada di atas manhaj yang lurus sehingga selamat di tengah badai tahdzir dan fitnah. Namun, apa jawaban Syaikh? Beliau berkata, “Manhaj Nabi sudah jelas dan diketahui. Nabi bangun tengah malam lantas shalat malam. Menjelang shubuh beliau bersahur, lalu beristighfar menunggu shubuh. Kemudian beliau shalat Shubuh berjamaah. Setelah itu beliau duduk di masjid, berdzikir hingga waktu syuruq, lalu shalat dua rakaat. Jika tiba
waktu dhuha beliau shalat Dhuha, dan
seterusnya. Beliau bersedekah, mengunjungi orang sakit, membantu orang yang kesusahan, menjamu tamu… dan seterusnya. Manhaj beliau ma’ruf.” Demikian kira-kira jawaban beliau. Jawaban yang mengingatkan sebagian kita yang menyukai tahdzir- mentahdzir agar jangan lupa beramal. Jangan sampai kita yang mengaku di atas manhaj yang benar dan memberikan porsi yang besar terhadap manhaj, lantas lalai dari beramal shalih. Jangan sampai kita yang semangat mentahdzir kesalahan orang lain, ternyata orang yang kita tahdzir tersebut lebih perhatian terhadap amal daripada kita. Saya teringat nasihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap orang yang suka mentahdzir
tapi kurang suka beramal, sementara orang yang ditahdzir justru lebih semangat dalam beramal. Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan banyak orang-orang yang mengingkari bid’ah-bid’ah ibadah dan adat, engkau dapati mereka muqashir (kurang) dalam mengerjakan sunah- sunah dari hal yang berkaitan dengan ibadah, atau dalam ber-amar makruf, menyeru manusia untuk mengerjakan sunah-sunah tersebut (yang berkaitan dengan ibadah). Dan, mungkin saja keadaan mereka, yang mengingkari bid’ah namun tidak mengerjakan banyak sunah Nabi, justru lebih buruk dari keadaan orang yang melakukan ibadah yang bercampur dengan suatu kemakruhan (Maksud ibnu Taimiyyah dengan kemakruhan di sini adalah kebid’ahan sebagaimana sangat jelas dalam penjelasan beliau sebelumnya- pen). Bahkan, agama itu adalah amar makruf dan nahi mungkar, dan tidak bisa tegak salah satu dari keduanya kecuali jika bersama dengan yang lainnya. Maka tidaklah dilarang suatu kemungkaran kecuali diperintahkan suatu kemakrufan.” (Iqtidho’ As- Shirootil Mustaqiim II/126.) Madinah, 19 04 1432 H / 24 03 2011 M Abu Abdilmuhsin Firanda www.firanda.com

Kamis, 20 Januari 2011

singa-singa padang pasir 2

sing-singa padang pasir 1

Bismillaah,

Singa-singa Padang Pasir diPerang Nahawand

Mereka adalah sosok pejuang pencari kemuliaan. Harapan yang lahir dari kejernihan iman, menjadikan mereka sebagai ksatria-ksatria tangguh dalam kancah jihad fi sabilillah. Terik panas gurun pasir, lembah gersang lagi tandus, pegunungan yang terjal, serta ancaman maut menghadang tidaklah menyurutkan langkah tegap mereka. Tentunya amalan yang selaras dengan ajaran agama, bukan tindakan teror khawarij yang membabi buta. Keinginan mereka tak lebih dari dua hal, hidup mulia dengan tegaknya Islam dimuka bumi atau gugur meraih syahid. Kemuliaan, keberanian, serta ketangguhan yang mereka miliki menjadikan mereka layak menyandang gelar “Singa-Singa Padang Pasir”.


SEKILAS TENTANG PERANG NAHAWAND

Perang ini merupakan peperangan berskala besar yang berlangsung pada tahun 21 H. Berbagai kisah heroik dan menakjubkan mewarnai jalannya pertempuran. Sebuah gambaran jihad fi sabilillah dimasa khalifah Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu. Peristiwa bersejarah ini berlangsung di Nahawand, sebuah kota besar yang terletak di Al-Hadhbah – Iran pada masa sekarang. Karena itulah peperangan ini dikenal dengan Perang Nahawand.
LATAR BELAKANG PEPERANGAN

Bertahap tapi pasti pasukan Islam berhasil menaklukkan negeri Syam (Romawi) hingga Baitul Maqdis. Penaklukan ini terus berlanjut dengan dikuasainya negeri Mesir, kemudian Iraq hingga Istana Putih (kerajaan Persia) di Madain jatuh ditangan kaum muslimin.

Singa-Singa Padang Pasir terus merangsek memasuki wilayah teritorial Persia. Bertubi-tubi kota demi kota berhasil dikuasai. Fenomena tragis ini menyulut kemarahan Yazdigird, raja Persia kala itu. Diapun melayangkan surat provokasi kepada para pimpinan wilayah disekitar Nahawand, memotivasi mereka untuk berangkat menyerbu wilayah kaum muslimin.

Upaya ini berhasil menghimpun sebuah pasukan besar berkekuatan 150.000 personil lengkap dengan persenjataannya. Detasemen gabungan artileri-kavaleri ini dibawah komando seorang panglima senior yang bernama Al-Fairuzan.

Merekapun bersepakat menyatukan kekuatan dan memobilisasi pasukan untuk menyerang kota Basrah dan Kufah. Rencana penyerangan pasukan Persia itu sampai kepada Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu di kota Madinah. Segera Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kaum muslimin untuk berkumpul di masjid. Beliau naik mimbar dan berkata: “Sesungguhnya hari ini adalah penentu bagi hari esok. Aku akan memberikan sebuah instruksi kepada kalian, maka dengarlah dan penuhilah! Jangan kalian saling berselisih sehingga kekuatan kalian menjadi sirna! Aku berkeinginan keras untuk maju bersama tentara-tentara yang berada di depanku hingga sampai di suatu tempat antara kota Basrah dan Kufah. Lantas aku akan himbau kaum muslimin untuk berangkat sebagai satuan tempur, hingga Allah memberi kemenangan kepada kita.”

Setelah mendengar gagasan-gagasan dari beberapa pemuka kaum muslimin, Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu memutuskan untuk mendahului menyerbu wilayah Persia, dan mengangkat seorang dari pasukan yang berada di Iraq sebagai panglima perang. Beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mengangkat seorang panglima perang yang akan menjadi ujung tombak di saat bertemu musuh esok hari.” Mereka bertanya: “Siapakah dia wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab: “An-Nu’man bin Muqarrin”. “Dia memang pantas untuk hal itu,” sahut mereka.


PERSIAPAN PASUKAN ISLAM

Rencana penyerangan pasukan Persia merupakan ancaman besar bagi daerah kaum muslimin, terkhusus kota Basrah dan Kufah. Hal ini membutuhkan tindakan yang cepat dan tepat sebelum pasukan Persia datang menyerbu.

Umar radhiyallahu ‘anhu segera memerintahkan Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu agar berangkat dari Kufah bersama pasukannya. Demikian pula instruksi diberikan kepada Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu agar berangkat bersama pasukannya dari Basrah.

Merekapun bergerak maju dengan membawa pasukan Islam dalam jumlah besar. Mereka benar-benar waspada atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Hingga akhirnya seluruh pasukan Islam berkumpul di tempat yang telah disepakati, lengkaplah jumlah pasukan Islam menjadi 30.000 personil. Di dalamnya terdapat banyak pembesar sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pemimpin Arab. Bertindak sebagai panglima tertinggi seluruh pasukan Islam adalah An-Nu’man bin Muqarrin.

Sebagai langkah awal, An-Nu’man mengutus Thulaihah, ‘Amr bin Ma’dikarib, dan ‘Amr bin Abi Salamah sebagai satuan intelijen di depan pasukan, untuk mengumpulkan informasi keadaan musuh. Thulaihah berhasil menyusup ke dalam barisan pasukan Persia, sementara kedua rekannya kembali di pertengahan jalan. Bahkan Thulaihah Al-Asadi berhasil membunuh beberapa petinggi pasukan Persia, menawan salah satu pimpinan mereka, dan mendapatkan data akurat tentang kekuatan musuh.

Akhirnya, dapat diketahui bahwa tidak dijumpai adanya mara bahaya pada rute menuju Nahawand.


JALANNYA PEPERANGAN

An-Nu’man bin Muqarrin bersama pasukan Islam bergerak maju menuju Nahawand. Pasukan lini depan dipimpin oleh Nu’aim bin Muqarrin, pasukan penyerang di bawah komando Al-Qa’qa’ bin ‘Amr, sayap kiri dan kanan dipegang Hudzaifah bin Al-Yaman dan Suwaid bin Muqarrin. Adapun pertahanan belakang diatur oleh Mujasyi’ bin Mas’ud.

Di saat kedua pasukan berhadapan, An-Nu’man berikut pasukan Islam bertakbir tiga kali hingga mengguncang barisan musuh dan membuat mereka sangat ketakutan, kemudian An-Nu’man menginstruksikan agar pasukan Islam meletakkan perbekalan mereka dan segera mendirikan tenda-tenda.

Di saat persiapan sudah matang, instruksi telah diberikan kepada tiap pimpinan regu, peperanganpun tak terelakkan lagi. Pasukan Islam serempak menyerbu barisan pasukan Persia.

Pada hari-hari itu begitu tampak bukti keimanan, ketangguhan, dan keberanian pasukan Islam. Perbandingan jumlah pasukan yang tak seimbang itu tidaklah menyurutkan langkah milisi militan Islam, hingga pasukan Persia melarikan diri berlindung ke dalam benteng. Pengepungan segera dilakukan dengan sangat ketat dari segala penjuru. Sementara pasukan Persia leluasa keluar menyerang dan masuk berlindung ke benteng sekehendak mereka.

Bersambung